Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab

Byadmin

Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab

tafham.com – Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab

Judul di atas bukan untuk merendahkan siapan pun. Judul itu dibuat hanya sebagai motivasi bagi siapa pun, orang Arab ataupun non-Arab, khususnya bagi mereka yang selama ini menghadapi kesulitan dalam mempelajari bahasa Arab.

Salah dalam menggunakan bahasa Arab merupakan hal biasa. Yang penting, kita harus memiliki azam kuat untuk terus belajar. Tapi mengapa ada orang Arab salah dalam berbahasa Arab? Karena, seseorang tidak dilahirkan dengan memiliki ilmu pengetahuan, melainkan dia harus belajar terlebih dahulu.

Jadi, siapa pun orangnya, apakah dia orang Arab atau bukan, kalau mau belajar bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, pasti Allah SWT akan memberinya banyak kemudahan.

Salah Tulis Surat Umar Pun Marah

Suatu hari, seorang juru tulis Abu Musa Al-Asy’ari menuliskan surat darinya kepada Umar ibnul Khattab r.a.:

مِنْ أَبُوْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِي

min Abu Musa Al-Asy’ari….

Umar membalas surat itu kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang isinya agar Abu Musa mecambuk sang juru tulis karena kesalahannya dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Arab tersebut. Kalimat yang benar dalam kaidah Bahasa Arab adalah:

مِنْ أَبِيْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِي

min Abi Musa, bukan min Abu Musa.

Kata “Abi”, majrur pakai ya’ karena didahului huruf jarr  “min”.

Dalam kesempatan lain, Umar ibnul Khattab r.a. pernah melawati sekelompok orang yang sedang belajar memanah. Umar tidak memperlihatkan kekagumannya dengan cara memanah mereka, lalu Umar pun menegur mereka. Meraka pun menjawab :

“إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّمِيْنَ”.

Inna Qoumun muta’allimin.

Mendengar kalimat tersebut, Umar pun sadar dan prihatin atas kesalahan kalimat

Mengapa demikian? Karena, kalimat yang benar dalam Bahasa Arab

“إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّمُوْنَ”.

Kata “muta’allimun” marfu’ pakai wawu karena berkedudukan sebagi sifat ‘khabar marfu’, yaitu kata ‘Qaum’.

Lalu Umar berkata: “Demi Allah, kesalahan kalian dalam bertutur kata, bagiku lebih berbahaya dari pada kesalahan kalian dalam mengarahkan anak panah”.

Pernikahan Silang Arab dan Non-Arab

Pada masa khilafah Bani Umayah, dakwah Islam tersebar secara lebih luas dan bercampurnya orang Arab dan non-Arab, juga terjadinya pernikahan silang antara orang Arab dan non-Arab. Mulai saat itulah terjadi banyak kesalahan dalam pengucapan bahasa Arab. Akibatnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkata: “Banyaknya orang yang berbicara di atas mimbar dan terjadinya kesalahan (dalam berbahasa Arab) membuat rambutku lebih cepat memutih”.

Kisah Putri Abul Aswad Al-Du’ali

Bagi Anda yang sedang atau pernah belajar bahasa Arab dan sering mengalami kesalahan dalam pengucapan bahasa Arab, jangan sampai merasa pesimis apalagi putusasa dalam mempelajari bahasa Al-Quran ini. Ingat, orang Arab saja banyak yang salah berbahasa Arab! Jadi, wajar kalau pada awal-awal kita belajar kita sering salah dalam menyusun kalimat yang benar.

Coba kita simak bersama kisah putri seorang peletak pertama ilmu Nahwu, salah seorang tabi’in, bernama Abul Aswad Al-Du’aliy. Ia pula yang memulai pengharakatan Al-Quran. Dalam suatu riwayat disebutkan, Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan pengharakatan itu. Dalam riwayat lain, Umar ibnul Khattab yang memerintahkannya.

Pada suatu malam, langit terlihat begitu indah dengan cahaya jutaan bintang yang menyinari bumi. Sang putri dalam kisah ini ingin mengungkapkan ketakjubannya. Dia berkata:

ما أحسنُ السماء

Huruf nun berharakat dhammah (marfu’) yang artinya: “Langit, apanya yang paling indah?” .

Maka ayahnya menjawab: “Wahai putriku, langit yang terindah adalah bintang-bintangnya”. Sang putri pun berkata: ”Aku tidak ingin bertanya mana yang paling indah, akan tetapi aku hanya ingin mengungkapkan kekagumanku”.

Sang ayah pun akhirnya berkata: ”Kalau demikian maka katakanlah

ما أحسنَ السماء

Huruf nun berharakat fathah (manshub) yang artinya “Alangkah indahnya langit ini!”

Bahasa Ibu

Bagi umat Islam, seharusnya bahasa Arab dijadikan bahasa Ibu, sekaligus bahasa nasional dan internasional yang dapat digunakan di mana saja, di mana pun kita bertemu Saudara seseiman dan seakidah.

Seharusnya kita dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab, bahasa Rasulullah SAW. Bahasa Arab itu mudah dan perlu dipelajari.

Untuk memahami literatur Islam yang asli, yang tentunya semua berbahasa Arab, maka tidak ada cara lain, kecuali harus memahami bahasa Arab secara baik. Sungguh jauh perbedaan antara orang yang paham bahasa Arab dengan yang tidak. Banyak karya dan peninggalan para ulama kita yang sampai saat ini belum diterjemahkan karena tebal dan berjilid-jilid. Semua karya mereka ini hanya dapat diakses dan dinikmati oleh mereka yang paham bahasa Arab dengan baik.

Jadi, seperti orang yang ingin menaiki satu lantai di atasnya, maka dia harus melalui tangga atau lift. Maka, keberadaan tangga atau lift tersebut wajib. Demikian pula halnya dengan bahasa Arab. Ia adalah sarana dan alat dalam memahami Al-Quran dan Al-Sunnah, serta kitab-kitab dan karya-karya para ulama yang berbahasa Arab itu. Suatu kewajiban akan sempurna bila mana ada sarana penopangnya, maka sarana penopang tersebut keberadaanya menjadi wajib.

Nah, sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: Sudah sejauh mana pemahaman bahasa Arab kita? Apakah tidak ada waktu untuk mempelajari dan memperdalamnya? Sibuk berdakwah, mengurusi ini dan itu?

Semoga Allah SWT yang Mahaadil memudahkan kita yang mau bersungguh-sungguh dan mau meluangkan waktu khusus dalam mempelajari bahasa Arab, bahasa Kitab Suci-Nya. Amin!

“Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Ankabut/29 : 69). wallahu a’lam bish-shawab.

Ust. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

About the author

admin administrator

Leave a Reply

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com