Author Archive admin

Byadmin

Ini Dia Metode Belajar Bahasa Arab Untuk Pemula

tafham – Ini Dia Metode Belajar Bahasa Arab Untuk Pemula

Bahasa Arab Mudah Sistem 15 Jam, Panduan Praktis Dialog Bahasa Arab Untuk Pemula dan juga orang sibuk adalah sebuah metode pelajaran Bahasa Arab yang dirangkum dan disajikan oleh Taufik Hamim Effendi, Lc., MA, seorang ustadz dan sekaligus trainer Al-Quran dan Bahasa Arab berpengalaman, baik di tanah air mau pun manca negera.

Insya Allah Ta’ala, metode sederhana ini akan dapat membantu para pecinta Bahasa Arab, khususnya dalam berdialog dengan bahasa Arab yang fasih, yaitu bahasa Al-Qur’an. Dengan mempelajari metode sederhana ini juga berarti telah mempelajari bagaimana cara membaca teks berbahasa Arab dasar, minimal dapat membaca, memahami dan menguasai semua teks-teks dialog dan cerita di dalam panduan ini tanpa harus mengharakatkannya (memberi baris).

Byadmin

Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab

tafham.com – Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab

Judul di atas bukan untuk merendahkan siapan pun. Judul itu dibuat hanya sebagai motivasi bagi siapa pun, orang Arab ataupun non-Arab, khususnya bagi mereka yang selama ini menghadapi kesulitan dalam mempelajari bahasa Arab.

Salah dalam menggunakan bahasa Arab merupakan hal biasa. Yang penting, kita harus memiliki azam kuat untuk terus belajar. Tapi mengapa ada orang Arab salah dalam berbahasa Arab? Karena, seseorang tidak dilahirkan dengan memiliki ilmu pengetahuan, melainkan dia harus belajar terlebih dahulu.

Jadi, siapa pun orangnya, apakah dia orang Arab atau bukan, kalau mau belajar bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, pasti Allah SWT akan memberinya banyak kemudahan.

Salah Tulis Surat Umar Pun Marah

Suatu hari, seorang juru tulis Abu Musa Al-Asy’ari menuliskan surat darinya kepada Umar ibnul Khattab r.a.:

مِنْ أَبُوْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِي

min Abu Musa Al-Asy’ari….

Umar membalas surat itu kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang isinya agar Abu Musa mecambuk sang juru tulis karena kesalahannya dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Arab tersebut. Kalimat yang benar dalam kaidah Bahasa Arab adalah:

مِنْ أَبِيْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِي

min Abi Musa, bukan min Abu Musa.

Kata “Abi”, majrur pakai ya’ karena didahului huruf jarr  “min”.

Dalam kesempatan lain, Umar ibnul Khattab r.a. pernah melawati sekelompok orang yang sedang belajar memanah. Umar tidak memperlihatkan kekagumannya dengan cara memanah mereka, lalu Umar pun menegur mereka. Meraka pun menjawab :

“إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّمِيْنَ”.

Inna Qoumun muta’allimin.

Mendengar kalimat tersebut, Umar pun sadar dan prihatin atas kesalahan kalimat

Mengapa demikian? Karena, kalimat yang benar dalam Bahasa Arab

“إِنَّا قَوْمٌ مُتَعَلِّمُوْنَ”.

Kata “muta’allimun” marfu’ pakai wawu karena berkedudukan sebagi sifat ‘khabar marfu’, yaitu kata ‘Qaum’.

Lalu Umar berkata: “Demi Allah, kesalahan kalian dalam bertutur kata, bagiku lebih berbahaya dari pada kesalahan kalian dalam mengarahkan anak panah”.

Pernikahan Silang Arab dan Non-Arab

Pada masa khilafah Bani Umayah, dakwah Islam tersebar secara lebih luas dan bercampurnya orang Arab dan non-Arab, juga terjadinya pernikahan silang antara orang Arab dan non-Arab. Mulai saat itulah terjadi banyak kesalahan dalam pengucapan bahasa Arab. Akibatnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkata: “Banyaknya orang yang berbicara di atas mimbar dan terjadinya kesalahan (dalam berbahasa Arab) membuat rambutku lebih cepat memutih”.

Kisah Putri Abul Aswad Al-Du’ali

Bagi Anda yang sedang atau pernah belajar bahasa Arab dan sering mengalami kesalahan dalam pengucapan bahasa Arab, jangan sampai merasa pesimis apalagi putusasa dalam mempelajari bahasa Al-Quran ini. Ingat, orang Arab saja banyak yang salah berbahasa Arab! Jadi, wajar kalau pada awal-awal kita belajar kita sering salah dalam menyusun kalimat yang benar.

Coba kita simak bersama kisah putri seorang peletak pertama ilmu Nahwu, salah seorang tabi’in, bernama Abul Aswad Al-Du’aliy. Ia pula yang memulai pengharakatan Al-Quran. Dalam suatu riwayat disebutkan, Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan pengharakatan itu. Dalam riwayat lain, Umar ibnul Khattab yang memerintahkannya.

Pada suatu malam, langit terlihat begitu indah dengan cahaya jutaan bintang yang menyinari bumi. Sang putri dalam kisah ini ingin mengungkapkan ketakjubannya. Dia berkata:

ما أحسنُ السماء

Huruf nun berharakat dhammah (marfu’) yang artinya: “Langit, apanya yang paling indah?” .

Maka ayahnya menjawab: “Wahai putriku, langit yang terindah adalah bintang-bintangnya”. Sang putri pun berkata: ”Aku tidak ingin bertanya mana yang paling indah, akan tetapi aku hanya ingin mengungkapkan kekagumanku”.

Sang ayah pun akhirnya berkata: ”Kalau demikian maka katakanlah

ما أحسنَ السماء

Huruf nun berharakat fathah (manshub) yang artinya “Alangkah indahnya langit ini!”

Bahasa Ibu

Bagi umat Islam, seharusnya bahasa Arab dijadikan bahasa Ibu, sekaligus bahasa nasional dan internasional yang dapat digunakan di mana saja, di mana pun kita bertemu Saudara seseiman dan seakidah.

Seharusnya kita dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab, bahasa Rasulullah SAW. Bahasa Arab itu mudah dan perlu dipelajari.

Untuk memahami literatur Islam yang asli, yang tentunya semua berbahasa Arab, maka tidak ada cara lain, kecuali harus memahami bahasa Arab secara baik. Sungguh jauh perbedaan antara orang yang paham bahasa Arab dengan yang tidak. Banyak karya dan peninggalan para ulama kita yang sampai saat ini belum diterjemahkan karena tebal dan berjilid-jilid. Semua karya mereka ini hanya dapat diakses dan dinikmati oleh mereka yang paham bahasa Arab dengan baik.

Jadi, seperti orang yang ingin menaiki satu lantai di atasnya, maka dia harus melalui tangga atau lift. Maka, keberadaan tangga atau lift tersebut wajib. Demikian pula halnya dengan bahasa Arab. Ia adalah sarana dan alat dalam memahami Al-Quran dan Al-Sunnah, serta kitab-kitab dan karya-karya para ulama yang berbahasa Arab itu. Suatu kewajiban akan sempurna bila mana ada sarana penopangnya, maka sarana penopang tersebut keberadaanya menjadi wajib.

Nah, sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: Sudah sejauh mana pemahaman bahasa Arab kita? Apakah tidak ada waktu untuk mempelajari dan memperdalamnya? Sibuk berdakwah, mengurusi ini dan itu?

Semoga Allah SWT yang Mahaadil memudahkan kita yang mau bersungguh-sungguh dan mau meluangkan waktu khusus dalam mempelajari bahasa Arab, bahasa Kitab Suci-Nya. Amin!

“Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Ankabut/29 : 69). wallahu a’lam bish-shawab.

Ust. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Byadmin

Bahasa Al-Quran Sama Dengan Bahasa Arab Yang Digunakan Saat Ini?

tafham.com – Bahasa Al-Quran Sama Dengan Bahasa Arab Yang Digunakan Saat Ini?

Pertanyaan :

Assalamu ‘alaikum wr wb

Pak Ustadz izinkan saya bertanya, apakah bahasa Arab Al-Qur’an sama dengan bahasa Arab yang digunakan sekarang? Artinya kalau saya cari artinya di kamus dapat dibenarkan?.

Achmad Siswono

Jawaban:

Wassalamu ‘alaikum wr wb

Bapak Achmad Siswono yang dimuliakan  Allah SWT, berkaitan dengan pertanyaan bapak, perlu kita ketahui bahwa Bahasa Arab yang digunakan  saat ini ada dua macam :

Pertama : Bahasa Arab fusha (Arab Fasih)

yaitu Bahasa Arab yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi dan  Atsar  para Shahabat. Bahasa Arab Fusha ini juga biasa digunakan dalam penulisan kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama salaf dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Selain itu Bahasa Arab fusha ini juga biasa digunakan dalam bahasa pengantar resmi di kampus-kampus atau  universitas-univeristas Islam  di Timur Tengah.

Jadi apabila kita faham Bahasa Arab secara baik dan benar, maka kita akan dapat membaca dan memahami secara baik dan benar kitab-kitab yang telah ditulis oleh para ulama tersebut. Dan ini tidak terbatas hanya pada membaca karangan mereka saja, mendengar dan berbicara langsung dengan siapapun apabila dia menggunakan Bahasa Arab fusha maka dia akan faham. Seandainya kita yang memahami Bahasa Arab dengan baik dan benar dapat berdiaolg lansung dengan Rasulullah SAW, para shahabatnya dan para ulama salaf yang telah lama wafat ratusan tahun (tapi ini mustahil dan tidak akan terjadi) pasti kita akan bisa saling memahami apa yang kita bicarakan; karena Bahasa Arab Fusha sampai saat ini tidak ada perubahan yang berarti sama sekali seperti halnya Bahasa Inggris atau Bahasa lainnya di dunia ini.

Keduan : Bahasa Arab ‘Amiyah (Bahasa Arab pasaran)

Yaitu Bahasa Arab yang biasa digunakan oleh orang masyarakat Arab dalam pergaulan sehari-hari mereka saat ini, tanpa kaidah ilmu nahwu, sharaf apalagi ilmu balaghah.

Walaupun sebagian lafazh Bahasa Arab ‘amiyah aslinya dari Bahasa Arab fusha, namun karena pengucapannya yang capat dan disingkat jadilah dia Bahasa ‘Amiyah yang biasa digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari

Bahasa Arab ‘amiyah ini cakupannya sangat sempit dan terbantas hanya pada daerah tertentu saja. Misalnya orang Arab Saudi apabila berbicara dangan orang Mesir, Maroko, Yaman atau Negara-negara Arab lainnya dengan Bahasa ‘Amiyah mereka masing-masing, maka bisa dipastikan mereka tidak akan saling memahami pembicaraan.

Seperti halnya di Indonesia bukannya ada banyak bahasa daerah, antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki bahasa daerah masing-masing yang apabila mereka berkumpul dan berbicara dengan menggunakan bahasa daerah mereka, maka tentunya tidak akan nyambung.

Lain halnya dengan Bahasa Arab fusha, dia bisa digunakan di negara manapun. Bila mana kita berbicara dengan orang Amerika, Inggris, Spanyol, Thailand atau Negara lainnya di belahan dunia ini, maka kita akan bisa saling memami pembicaraa kita kalau yang mereka juga menggunaka Bahasa Arab fusha pula.

Jadi di sini jelas bahwa Bahasa Arab yang digunakan sekarang ini sama dengan Bahasa Arab Al-Qur’an asalkan Bahasa Arab yang digunakan itu Bahasa Arab fusha dan sesuai dengan kaidah ilmu ahwu, sharaf dan balahgah.

Namun kalau bapak membuka kamus Arab-Indonesia dalam mencari arti suatu kata atau kalimat maka bapak akan mendapati terjemahannya terkadang tidak pas. Mengapa demikian?, karena memang satu kata dalam Bahasa Arab dapat memiliki lebih dari satu arti, tergantung dari siyaqul kalam (bentuk dan sususan kalimatnya).

Bagi para pemula dalam mempelajari Bahasa Arab memang tidak bisa meninggalkan kamus Arab-Indonesia atau Indonesia-Arab. Namun tetap tidak boleh lepas dari bimbingan sang guru. Idealnya dalam mencari arti dan maksud dari suatu kata Bahasa Arab kita menggunakan kamus Bahasa Arab yang yang berbahasa Arab pula seperti al-Mu’jamul Wasith. Sehingga ketika dia mencari maksud dan arti suatu kata maka dia akan mendapatkan lebih dari satu pengertian dan maknanya, bahkan di situ akan diberikan contoh-contoh penggunaan kata tersebut dalam beberapan susunan kalimat. Wallahu a’lam bishshawab

wassalamu ‘alaikum wr wb

Ust. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com